
Detik-detik menjelang ujian (special request nya Mas Kholid)
Tibalah minggu ketiga, minggu terakhir kami menjalani diklat prajab 2011. Sedih?? Lumayan. Karena hanya dalam hitungan hari aku harus berpisah dengan teman-teman yang sangat menginspirasi. Harus berpisah dengan teman-teman yang menyenangkan. Tak lama lagi kami harus bersiap menghadapi realita dan menerapkan apa yang sudah kami pelajari, diskusikan, dan sepakati di kelas. Tentang dinamika kelompok, tentang team building, tentang percepatan pemberantasan korupsi, tentang pelayanan prima, dll. Bisakah kami menerapkan itu semua??? Meminjam istilah Mas Dudun, kami akan segera menjalani proses ‘idealita vs realita’.
Kuputuskan untuk menutup buku-buku kesayanganku dan mulai mereview materi-materi ujian. Aku berrencana untuk membaca kembali modul-modul materi ketika istirahat ba’da ashar. Ternyata prediksiku meleset. Justru hari-hari terakhir jadwal kami sangat padat. Perkuliahan baru berakhir 30 menit menjelang maghrib. Jadi aku membaca dengan metode ‘skimming’ (metode yang selalu kupakai saat nongkrong di gramed dengan tujuan melahap banyak buku tanpa membelinya. Hehe…). Bahkan ada jadwal komputer selepas makan malam, yang ternyata materinya ‘hanya’ membuat blog. Berhubung koneksi internet di lab komputer cukup lemot, Bapak pengajar meminta kami yang sudah memiliki blog agar memberi kesempatan pada teman yang belum memiliki blog. Dengan kata lain, kami diminta untuk tidak menggunakan internet untuk melonggarkan band width (bener ga istilahnya ‘melonggarkan’??). Ibarat acara masak-masak, Bapak pengajar menjelaskan urut-urutan bagaimana cara membuat blog. Ku perhatikan beberapa teman mengikuti dengan antusias. Sementara aku lebih tertarik ngegame minesweeper dan purble place. And I’m the best timer, as always. Hehe.. dan karena tentu saja hanya aku yang main minesweeper di komputer itu. Saat itu aku berandai-andai, kalau saja materi malam itu adalah web design….
Esok harinya jadwal perkuliahan kami full sampai menjelang maghrib. Di sela-sela coffee break, Mas Broto membagikan foto kopi materi yang cukup tebal. “bakal kebaca ga neh???” Pikirku. Hari ujian semakin dekat. Suasana kelas tidak banyak berubah seperti hari-hari biasa. Saat coffe break ada yang merokok, mendengarkan music, browsing internet, serta mengobrol. Hanya beberapa teman yang terlihat membaca modul materi sebelumnya. Kami semua saling bertanya, “udah baca modul apa aja??” dan jawabannya mayoritas adalah, “ga sempet. Ngantuk banget kalo udah sampe kamar.” Selepas apel malam pun aku masih mendengar suara riuh ramai dari arah warung Pak Kece. Sementara itu semakin banyak gossip yang santer beredar mengenai ujian. Ada yang bilang bahwa teman-teman angkatan 1 dan 2 (mereka ujian 2 hari sebelum angkatan 5 dan 6) banyak yang tidak lulus. “katanya si banyak yang ga lulus Mbak. Masa mau diremidi semua?? Ya udah. Akhirnya dilulusin semua.” kata (sebut saja) D, sang sumber berita. “aku denger ujian itu cuma buat nentuin urutan peringkat kelas, semua si udah pasti lulus.” Ujar A, sumber kedua. “halah-halah…yang bener yang mana neh???” apapun gosipnya, intinya kami harus belajar.
Malam menjelang ujian pun tiba. Badanku cukup capek setelah seharian beraktivias. Aku membaca beberapa modul yang sudah kusiapkan di atar kasur. Ku lihat Bu Heni duduk di atas kasur sambil membaca dan menghafal materi dengan serius. Pandangannya lurus tertuju pada langit-langit kamar, jari-jari tangannya membentuk angka tiga, dan mulutnya bergumam lirih. Semua modul dan hand out tampak tertata rapi di sampingnya. Beberapa hari ini Bu Heni memang tidur bertemankan modul-modul materi. “yang penting udah ditata Mbak. kalo udah begini jadi tenang.” Kata Bu Heni, beberapa hari lalu. Bu Heni adalah salah satu dari sebagian besar peserta angkatan 5 yang sangat serius dan bersungguh-sungguh dalam menghadapi ujian. Angkatan 5 sepertinya selalu mengkopi hand out semua materi, yang bahkan kami (angkatan 6) tidak terlalu berminat untuk menanyakannya pada Mas Broto atau Mas Widya. “Hayo Mbak… UU tentang dasar pelayanan prima itu nomer berapa??” Tanya Bu Heni pagi tadi saat kami bersiap-siap apel. “hehe…UU nomer berapa ya bu?” Aku bertanya balik sambil senyam senyum. Bandingkan bagaimana aku dan sebagian besar teman-teman angkatan 6 menghadapi ujian. Sangat kontras!!!!
Ku lirik jamku. Pukul 21.00. “Ya Allah… aku kan mau baca. Kok aku malah ngantuk??” Protesku. Aku memutuskan untuk mengirim sms ke beberapa teman angkatan 6, sekaligus ingin mengetahui keadaan mereka (padune sms, padahal golek bolo sing podo ra sinau ne. hehhe…). “temans..met belajar, met tidur.. smg Allah SWT memudahkan.. n bisa lulus semua
. salam jumping jack :p.” Sms ku kirim ke nomor beberapa teman angkatan 6.
Jawaban teman-teman:
@Mbak Ayu Agastini: “amieeennnn jooooosssssss!!!!!!!!”
@Adit: “Met belajar apa met tidur? Kita kan dituntut konsisten.. jd yg bnr yg mana? :p Sikap pokok!! ki
aku lagi smsan+OL+ngemil+(pura2) sinau. Sesuk aku mohon bntuannya (contoni) ya..!? :p”
@Mas Budi: “amien..amien.. terima kasih bu.. smga lulus dng predikat membanggakan.”
@Mbak Wahyu: “okreee mksh ya. yupz belajar. Salam jumping jack. 5×8= 40 jack. Hehe”
@Mas Kholid: “siap..angkatan 6 sesuaikan dg rencana.. kerjakan! Ki lg bingung merencanakan meh sinau
opo turu.. hehe.. akhirnya ke pak kece aja..cari doping.”
@Mas Broto: “3×8 hitungan.. hehehehe… gutlak.”
@Mbak Rini: “amien.. matur teng qyu :/”
@Mbak Deasi: “met belajar jg y..ntar kt bljr breng di mimpi.. amiiiinnn.. joooooosssss.. ;D”
@Mas Widya: “joss, met sinau jg ya,”
@Mbak Ari: “Amin.. makasi Lin doanya, met belajar jg..”
@Mbak Dewi: “amin.. sukses juga y.”
@Mbak Santi: “thankyu.. tp jd bingung ki..meh bo2k, bljr, pa jamping jack disik ya..”
@Mas Dudun: “amiin. Sikap pokok.. zzz..”
(sms di atas ditulis sedemikian rupa sehingga hampir mirip dengan aslinya)
Setelah menerima sms dari teman-teman, aku tidur dengan tenang karena aku tahu malam itu beberapa dari mereka tidak belajar. Hehehe..
Jumat pagi. Kali ini selepas subuh aku tidak perlu lagi terburu-buru memakai baju olah raga dan bergerak ke lapangan. The good news is.. from now on, (insyaAllah) there would no more jumping jack in my life. The bad news is.. hari ini ujian!! Tapi sebenarnya perasaanku biasa-biasa saja. Tidak terlalu mengkhawatirkan ujian kali ini. Tidak seperti aku mengkhawatirkan UTS, UAS, dan ujian responsi jaman kuliah dulu. Tidak bisa dibandingkan. Ku pikir aku hanya butuh sedikit skimming, berharap semoga tidak banyak soal tentang nomor UU, dan soal-soal yang keluar bisa dijawab dengan sedikit permainan logika. Ku perhatikan Bu Heni yang masih tampak belajar dengan serius. Posisinya masih sama seperti tadi malam. Duduk di atas kasur, dengan hand out dan modul yang masih tertata rapi disampingnya. Matanya menatap langit-langit kamar, jari-jari tangannya bergerak membentuk angka-angka, wajahnya serius, sambil sesekali tersenyum karena berhasil menghafal beberapa point. Sedangkan aku??? Aku hanya berbaring sambil membolak-balik halaman modul dengan kecepatan 10 detik per halaman, dan menandai kata-kata kunci setiap bahasan dengan bolpoin. Di luar sana terdengar suara sekelompok orang yang meneriakkan, “Satu!! Dua!! Tiga!!…” yeah.. bye bye jumping jack!!!
Suasana makan pagi masih seperti hari-hari sebelumnya. Makanan di hari-hari terakhir terasa lebih enak, dan lebih bervariasi. Namun makan pagi kali itu diwarnai dengan pertanyaan, “udah pada belajar??” dan jawabannya seakan sudah pasti, “belum semua. La wong tadi malem tidur ok. Cape bgt.” Ketua senat saat itu juga meminta semua peserta agar mendoakan angkatan 5 dan 6 yang akan melaksanakan ujian. Pergerakkan long march menuju kelas pun kali ini tidak diwarnai dengan adegan lari-lari memperebutkan kursi favorit. Kami tahu, kursi-kursi sudah diatur sesuai dengan absen.
Pukul 07.00 kami memasuki ruang 6, ruang kelas kami. Aku dan teman-teman mencari meja yang tertempel nomor urut kami masing-masing. “yaah..kok aku di depan??” protes seseorang (aku lupa siapa). Aku duduk di deret nomor tiga sayap kanan, tepat di bawah AC. “asiikk..deket lina. Bisa nyontek!!” ujar Mas Nugraha yang duduk di belakangku, sumringah. “haha…ga ngefek kali mas!!” Aku merespon. “yaaahh.. lina lagi..lina lagi…” Mas Tunggul yang ternyata duduk di depanku, menyapa. “tenang Mas. tinggal satu hari lagi. mulai besok siang Mas Tunggul ga bakal ngeliat aku lagi.. hehe..” jawabku. Mas Dudun duduk di depanku, arah jam 10.32 (hehhehe..), Mas Amrih duduk di samping kiriku.
Sambil menunggu ujian dimulai, aku membaca modul materi. Tampak teman-teman yang duduk di sayap kiri dan sayap tengah melakukan hal yang sama. Pemandangan yang sangat jarang terjadi. Tak lama kemudian, ku lirik jam dinding kelas. Pukul 07.45. Lewat dari jadwal, seharusnya ujian dimulai pukul 07.30. Mas Dudun mulai tampak bosan menunggu, “do moco kabeh ik.” Ujarnya. Beberapa kursi di sayap tengah mulai kosong. Mas Budi berjalan meninggalkan kelas bergabung dengan Mas Jati, Mas Adi, dan Mas Erik yang sudah dari tadi merokok di depan pintu. Tak lama kemudian Mas Budi masuk kelas sambil membawa cangkir. “Mas Tunggul. Kofi brik dulu Mas Tunggul. Tuh di luar lagi pada kofi brik. Mas Dudun!! Kofi brik dulu Mas!!” ajak Mas Budi dengan logat jawanya yang kental, sambil meminum kopi dari cangkir yang sebenarnya kosong. “Cofee break?? Yang bener??” ujar Mas Tunggul, yang kemudian keluar kelas dan segera tahu bahwa itu cuma tipuan belaka.
Akhirnya ujian pun dimulai pukul 08.10. Terdapat 100 soal pilihan ganda yang harus kami jawab. Ku baca satu persatu, ternyata tidak terlalu sulit. Cukup bisa dilogika (hehhee..gaya bgt ya?? kan soalnya yg gampang, jawabnya yang susah. Hehe). Saat itu kelas tampak begitu tenang. Kali ini bukan karena kami terlelap tidur, tapi karena serius mengerjakan soal ujian.
Siangnya setelah ujian, kami mempersiapkan malam inagurasi di aula Muria. Kami menata kursi dan meja, serta sedikit membicarakan acara nanti malam. Saat itu aku bertugas sebagai PJ konsumsi. Bagiku itu tugas yang menantang, walaupun bagi sebagian orang tugas itu sangat simple dan gampang. Seumur hidup aku tidak pernah jadi PJ konsumsi. Paling hanya sebagai anggota, seksi sibuk di bagian konsumsi.
Malam inagurasi diawali dengan upacara pelepasan ID card secara simbolik oleh Pak Yunus. Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh ketua senat (Mas Tunggul), Mas Widya dan Mas Bayu sebagai ketua angkatan 5 dan 6. Kemudian kami menonton sebuah tayangan tentang keseharian kami selama mengikuti diklat. Ada foto kami sedang belajar dan presentasi di kelas, peserta yang tidur di kelas, jalan long march dan lari menuju kelas, foto culun 6 cowok angkatan 6 dengan pakain olahraga, sampai foto Mas Diki angkatan 5 sedang merokok. Seisi aula tertawa setiap kali slide berganti. Kemudian inagurasi berlanjut dengan acara bernyanyi bersama. Tapi ku pikir lebih mirip acara karaokean karena hanya sebagian kecil yang ikut bernyanyi. Selama acara aku hanya duduk, tertawa, ngobrol, dan sedikit foto-foto.
Ada yang berbeda dari malam inagurasi ini, yaitu drama kocak yang dimainkan oleh Mas Dudun, Mas Budi, Mas Aji, dan Mas Kholid. Mas Dudun berperan sebagai binsuh, memimpin peserta prajab senam pagi. Para peserta prajab (Mas Budi, Mas Aji, dan Mas Kholid) berbaris bersiap-siap mengikuti senam pagi. Mas Budi berperan sebagai dokter Sp. OG, sedangkan peran Mas Aji dan Mas Kholid, kurang jelas. “Yang sakit, hamil, maju ke depan!!” seru Mas Dudun. Ketiga peserta maju ke depan. “Sikap pokok!!!” lanjut Mas Dudun. “Joooossss!!” jawab ketiganya sambil memajukkan badan. Kami semua tertawa melihat ekpresi lugu para pemain.
Acara inagurasi ditutup dengan lagu kemesraan. Lagu ini sepertinya jadi lagu wajib setiap moment perpisahan. Mirip pas jaman perpisahan SMA dulu. Acara inagurasi pun selesai. Sementara angkatan 5 membereskan kursi dan meja, kami masih melanjutkan acara tukar kado. Kado yang kami beli harus bernilai maksimak Rp. 20.000. Kami tidak tahu dari siapa kado yang kami terima, karena semuanya terbungkus kertas koran. Aku mendapat notes warna merah dan hitam. Cocok!!! Cos I need it!! Ada yang mendapat tempat makan, tempat minum, coklat, dsb.
Hmmm… Sadly, today is the last day. Setelah makan pagi, kami berkumpul di kelas lantai 1 untuk pembagian STTP dan sekaligus pengumuman peringkat kelas. Mas Widya dan Mas Erik duduk di meja depan, tampak sibuk mengumpulkan dan memindahkan file foto-foto kami selama prajab. Mas Broto, sebagai bendahara (tampaknya bakal jadi bendahara abadi angkatan 6), mengumumkan sisa kas angkatan 6. Mas Tunggul membuka acara dan membagi STTP sekaligus pengumuman peringkat kelas. Peringkat kelas dari urutan 1 – 10 adalah Mbak Rini, Mas Dudun, Adit, Mbak Wahyu, Mbak Rani, Mbak Mila, Mas Kholid, Mbak Patopo, Mas Rizky, dan Mbak Dewi. Kemudian semua peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, unek-unek, atau apa pun di depan kelas. Tidak banyak yang bisa ku ingat. Kebanyakan dari kami mengingatkan untuk tetap saling menjaga silaturahmi dan menjaga kekompakan, serta mengamalkan ilmu yang kami dapat selama diklat prajab. Yang ku ingat dari kata-kata Mas Dudun adalah kebersamaan, persaudaraan, dan idealisme. Saat giliran Mas Fendy, “saya dan istri baru beberapa bulan pindah ke semarang. Hidup dua batang kara di sini. Selama tinggal di Semarang, teman-teman angkatan 6 adalah saudara pertama saya!” hiks..yang ini bener-bener bikin aku terharu.
Saat-saat perpisahan benar-benar terjadi. Satu persatu dari kami pergi dari asrama sambil membawa banyak tas dan koper. Mirip adegan eliminasi peserta AFI. Ada adegan saling mengucapkan selamat berjumpa lagi, melambaikan tangan sambil menarik koper, tapi kali ini tanpa tetesan air mata. Mas Tunggul dan istri berpamitan pada kami. Aku masih duduk-duduk bersama Mas Kholid, Mas Mugi, dan beberapa teman angkatan 5, saat ibu Mbak Deasi datang menjemput. Alhamdulillah Mbak Deasi memberi tumpangan sampai stasiun. Aku bergegas membawa tas dan koperku ke mobil Mbak Deasi. N finally I said good bye to Mas Kholid, Adit, Mas budi, dan Mas Amrih, yang saat itu berada di lapangan menunggu taksi.
Aku pun meninggalkan badan diklat. Saat perjalanan pulang, yang ku pikirkan saat itu adalah kapan aku bisa bertemu dengan teman-teman angkatan 6 lagi? di diklat PIM 4 kah?? (Hehe..) Kemudian aku memflash back hal-hal menyenangkan selama 17 hari bersama orang-orang yang sangat menginspirasi. Mengingat kembali hal-hal lucu, diskusi-diskusi, kesepakatan-kesepatan yang kami buat, dan senyum dan tawa setiap teman-teman angkatan 6. Aku pun berharap diklat kali ini membawa manfaat bagi kami, agar kami menjadi abdi negara yang baik dan amanah. Amin… ^_^
**teman-teman, this is the last part of my note about our unforgettable diklat prajab. That’s all I can write, as a reminder of our friendship. Hope I can write more stories about us. So, let’s make more stories!!! Hehe..
Salam jumping jack!!!!!!!! ^_^
Purwokerto, Februari 2011
The writer, Lina Keren Rahmawati