Memantaskan diri

Wonosobo, 30 Desember 2011

 

Ah…tak tahu kenapa, tiba-tiba ingin membuka you tube dan nonton video. Pake tiba-tiba juga, kepikiran Maher Zain. Tak banyak tau tentang lagu-lagunya. Akhirnya ku klik lagu for the rest of my life. Pernah nonton sebelumnya, tapi hanya bagian awal. Kali ini ku tonton sampai habis. Hehe.. I found something interested in it.

Bagian awal lagu ini menceritakan harapan seorang pria akan datangnya belahan jiwa (cie.. :p). Belahan jiwa disini tentu maksudnya adalah istri. Video ini menampilkan usaha-usaha yang dilakukan oleh sang penyanyi. Apa saja? Berdoa. Apakah hanya itu? No!! Definitely no!! Inilah bagian paling menarik dari video ini. Maher zain mulai menata kamarnya, mengganti poster Manchester United dengan lukisan yang bernuansa lebih netral. Mengganti warna tirai dengan warna merah maroon, warna yang kebanyakan wanita sukai. Mendekor kembali kamarnya, merapikan kaos kaki dan pakaian yang berserakan, belajar memasak, dan akhirnya membeli sebuah cincin.

Jadi teringat salah satu bab dalam 7 keajaiban rezeki karya Ippho ‘Right’ Santosa, yaitu memantaskan diri. Bahwa ketika kita berdoa dan berharap sesuatu atau menjadi sesuatu, maka harus diikuti dengan perbuatan yang mengarah ke sesuatu yang kita inginkan itu. Ya seperti yang dilakukan sama Maher Zain itu. Sang penulis buku sendiri mencontohkan, sebelum menikah beliau mengganti single bed menjadi double bed dan membuat taman di rumahnya. Walaupun saat itu beliau belum tahu kapan atau dengan siapa beliau akan menikah.

Tentu itu semua hanya contoh. Kita punya cara unik tersendiri dalam rangka memantaskan diri. Kita ingin suami atau istri yang berakhlak baik, maka kita juga harus membaikkan akhlak kita. Ingin kaya? Ya berlakulah seperti orang kaya, yaitu banyak memberi. Mario Teguh pernah mengingatkan, jika kita ingin masuk surga, berperilakulah seperti penduduk surga.

So, mari kita memantaskan diri

Semoga bermanfaat ^_^

celengan

Purwokerto, 26 September 2011

 

Celengan

 

Celengan identik dengan menabung, yang umumnya digunakan oleh anak-anak.

Question:

yaelah lin.. nenek gw jg tau kalo celengan buat nabung. Trus ngapain kamu nulis ginian?

Sudah setahun ini aku sering membaca tips-tips financial planning dari pakarnya, seperti Safir Senduk, Ahmad Gozali, dan Prita Ghozie. Setelah mulai menikmati gaji dari keringat sendiri (hehe..). Aku teringat perkataan oleh kakak laki-lakiku. Waktu itu dia baru saja menikah.  “Coba dari dulu aku rajin nabung ya, pasti sekarang uangku lebih banyak.” Ga tau sih.. ku pikir saat itu dia serius dengan perkataannya. Hal ini membuatku memutuskan: “I’m not gonna do the same mistake. I have to manage my money.” Sejak saat itulah aku mulai rajin membaca bagaimana merencanakan keuangan. Walaupun aku belum kaya, at least I know just what to do with my money. Intinya belajar kaya dari sekarang. Seberapapun uang yang ku punya. Hehe..

Tips yang akan ku bahas kali ini adalah tips dari Safir Senduk. Beliau menyarankan kita untuk menabung dalam bentuk celengan. “What??? Hari gini?? I’m not a little kid anymore.” Kata-kata yang terlintas di otakku saat itu.

Perlu diakui, banyak dari kita yang sulit dalam menyisihkan uang untuk ditabung. Alih-alih menyisihkan di akhir, eh malah habis untuk keperluan ini itu tanpa perencanaan yang baik. Menyisihkan Rp 100.000 dalam sebulan bagaikan mendaki gunung Everest. Intinya ya susah banget. Celengan adalah salah satu solusinya. Biasanya aku menyisihkan sebagian uang untuk ditabung segera setelah menerima gaji. Tapi kupikir konsep celengan ini bisa ku pakai sekaligus. Uang yang ditabung bisa digunakan untuk membeli barang dalam jangka waktu beberapa bulan atau sekedar masuk rekening bank.

Question:

Trus..  sampai kapan kita nyelengin uang?

Aku membuat standar waktuku sendiri. Jangan sampai uang tabungan mengendap di celengan dalam jangka waktu lebih dari enam bulan. Setelah beberapa bulan, masukkan ke dalam rekening bank. Karena uang tersebut akan diputar untuk kepentingan roda perekonomian (walaupun uang di celenganku ga seberapa). Ada juga yang menyarankan untuk memasukkan uang celengan ke dalam bank setiap bulan. Ku pikir semua itu tergantung situasi dan keadaan keuangan kita.

Akhirnya aku membeli celengan plastik bentuk barrel bertuliskan deposito seharga Rp. 1.500. Ku pikir tidak usah membeli celengan yang bagus kalau sekedar untuk dibuka dalam beberapa bulan.

Question:

Eh. Kamu beneran nyelengin uang recehan?

Nah.. itu dia bedanya. Dulu ketika aku masih SD, aku memasukkan Rp. 100 ke dalam celengan pink ku yang berbentuk ikan. Masa sekarang kita mau nyelengin uang cepe juga? Kan kebutuhan kita sudah berbeda. Uang segitu juga bisa buat beli apa? Karena inflasi yang gila-gilaan sejak krisis 1998. Sejak sekitar November tahun lalu, aku mulai nyelengin uangku. Dengan tujuan untuk dimasukkan ke dalam rekening bank. Uang yang ku tabung terdiri dari berbagai macam, mulai dari pecahan Rp. 5.000 sampai Rp. 20.000. Setiap aku melihat ada uang di dompetku, langsung aku ambil salah satu dan ku masukkan ke celengan. Minimal sekali dalam sehari aku melakukannya. Kadang aku memaksakan diriku untuk memasukkan uang Rp. 20.000. Well, yeah… demi keberhasilan program ku. Ku pikir daripada kugunakan untuk membeli es krim (waktu itu kayaknya emang keseringan beli es krim. hehe..).

Question:

Kamu komit ga?

Awalnya aku semangat. Tapi mulai awal tahun 2011 semangat nyelenginku agak menurun, bahkan sempat benar-benar berhenti selama beberapa pekan. Program celengan ini ku giatkan lagi sekitar April 2011. Tujuannya pun ku ganti. Bukan untuk ku masukkan rekening, tapi untuk ku gunakan saat ramadhan nanti. Dan aku pun tidak berorientasi pada hasil, tidak mempunyai target nominal tertentu. Saat ini tujuan program ini adalah untuk melatih kedisplinan dan bagaimana aku berkomitmen dalam mengelola uang.

Celengan ku buka saat awal ramadhan. Alhamdulillah dapat 400 ribuan (lupa tepatnya). Semua uang itu ku belikan sembako untuk tetangga yang kurang mampu. Bagiku, nominal tersebut adalah sangat besar untuk sekali infak. Harus ku akui, harus berpikir beberapa kali untuk menginfakkan uang sebesar itu dalam satu waktu (sebuah pengakuan. hehe..). Tapi dengan metode ini, Alhamdulillah semua terasa ringan.

Alhamdulillah.. Senang!!! Senang rasanya bisa menikmati hasil komitmen dan disiplin dalam mengelola uang. Ku pikir lebih menyenangkan dari membeli t-shirt biru bergambar fido dido dari hasil nyelengin ketika SD.

Dan sekarang aku pun mulai ‘nyelengin’ lagi, untuk tujuan lain tentunya.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari sifat riya

Semoga Allah membantu kita (wanita) menjadi istri yang bisa menjaga harta suami

Semoga bermanfaat

*Nb:

baca juga bukunya Prita Ghozie: Menjadi Cantik, Gaya, dan Tetap Kaya

visit www.perencanakeuangan.com dan www.ahmadgozali.com

cicak

Purwokerto, 20 September 2011

Cicak

 

Cicak-cicak di dinding

Diam-diam merayap

Datang seekor nyamuk

Hap!! Lalu ditangkap

 

Lagu yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kita tidak akan membahas siapa penciptanya atau bahkan sejarah lagu ini dibuat. Bukan. Who cares anyway?? Yang akan kita bahas adalah liriknya. Terutama bait pertama.

 

Lagu ini begitu memberi kesan yang sangat kuat, bahwa cicak hanya merayap di dinding. Memang ku perhatikan, selama ini cicak-cicak di rumahku hanya merayap di dinding. tapi, ternyata ada yang luput dari perhatianku. Pernah aku memergoki seekor cicak sedang bertengger diatas gelas yang terbuka. Si cicak mengarahkan mulutnya ke dalam gelas yang terisi air. Sementara setengah tubuh dan ekornya berada di atas gelas. Jijik. Kotor. Hal yang langsung terlintas di kepala ku. Bayangkan. Cicak kan ga pake sandal jepit, apalagi sepatu FILA. Kita tak pernah tahu, si cicak sudah travelling ke mana saja. Dinding,  langit-langit, silaturahim ke rumah mbah kecoa, om semut, dll. Kemungkinan besar, permukaan kulit dan mulutnya penuh kuman.

 

Hal yang lebih mengejutkan lagi terjadi di kamar kosku. Si cicak tampak mengendus-endus bila ada makanan di piring yang terbuka. Pernah suatu hari, aku melihat si cicak sudah bertengger di atas tahu rebusku!! Yaiks!!! Untuk menghindari terulangnya kejadian ini, aku menutup makanan dengan piring. Maklum, anak kos mana yang punya tudung saji??? Hehe.. And you know what?? Si cicak masih bisa menerobos pertahananku!! Pintar kali cicak ni… Allah memang menganugerahkan kecerdasan pada si cicak. Aku kembali berpikir. ‘Masa aku kalah sama cicak???’ akhirnya aku memberi pemberat di atas piring yang dipakai sebagai penutup makanan. Alhamdulillah, belum ada laporan si cicak bisa menembus piring penutup makanan dan bertengger di atas makanan. Tapi walaupun begitu, aku tidak boleh lengah. Siapa tahu si cicak sedang mengatur strategi baru untuk menyantap makananku.

 

Cicak… semoga tidak akan pernah ada bata di antara kita.

 

Please, for your safety, close your foods and drinks with something that any lizard or insect can’t break.

 

 

 

*apa cicak suka sama tahu? Cos beberapa kali si cicak mencoba memakan tahu rebusku. Apa cicak masih satu keluarga sama iguana? Cos setauku, iguana akan menggigit tangan kita, kalo tangan kita bau tahu.

 

 

Semua Terjadi Karena Suatu Alasan

Semua Terjadi Karena Suatu Alasan

Frank Slazak adalah seorang warga Amerika yang semasa kecilnya telah memimpikan sebagai seorang astronot. Bahkan berpuluh tahun sampai ia beranjak dewasa pun ia masih menginginkan menjadi seorang astronot. Hanya saja ia tidak punya gelar dan pendidikan yang memadai untuk menjadi astronot karena ia adalah seorang guru. Bagi sebagian orang mungkin kondisi tersebut sudah cukup untuk membuat mereka mengganti segera impiannya dan menguburnya dalam-dalam. Tapi tidak bagi Frank Slazak. Ia berdoa setiap hari agar ia diberi kesempatan untuk mejdai seorang astronot.

Hingga pada suatu hari pemerintah Amerika Serikat melalui NASA mengumumkan bahwa mereka mencari relawan dari warga sipil yang berprofesi sebagai seorang guru untuk mengikuti seleksi sebagai astronot untuk kelak dapat menceritakan kepada masyarakat luas tentang pengalaman luar biasa menjelajahi luar angkasa. Dan hari itu juga ia beranjak menuju kantor pos untuk mengirimkan surat permohonan ikut seleksi ke NASA.

Setiap hari ia bersemangat membuka kotak surat di rumahnya berharap akan ada surat penggilan untuk dirinya, hingga pada suatu hari doa itu dikabulkan. Frank Slazak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes tahap pertama yang diikuti oleh 43.000 guru lainnya dari seluruh Amerika di Kennedy Space Center. Setelah tes tahap pertama, yaitu tes mental dan fisik selesai dilakukan, Frank Slazak tetap menunggu dan berdoa. Ia yakin bahwa impiannya semakin dekat.

Minggu berikutnya, kembali doanya terkabul, ia kembali mendapat panggilan pada tes tahap lanjut bersama 9.999 orang guru lain. Singkatnya, kembali ia berhasil melalui tes yang cukup melelahkan hingga akhirnya tersisa 100 orang peserta di tahap akhir. Berbagai tes mulai dari tes uji simulator, ketangkasan, ketahanan fisik hingga tes uji mabuk udara pun telah ia lewati. Dan tibalah saat yang ia tunggu, yaitu pengumuman akhir. Ia terus berdoa dengan akhirnya, NASA memutuskan untuk memilih Christina McAufliffe.

Dia merasa hancur, dia merasa kalah. Dia terus bertanya, “Kenapa bukan aku? Kenapa Tuhan tidak mengabulkan doaku?” Dia depresi berat kala itu, hingga kemudian ayahnya datang dan berkata , “semua terjadi karena suatu alasan…

Selasa 28 Oktober 1986, Frank Slazak bersama segenap rekannya datang ke landasan pacu untuk melihat peluncuran pesawat ulak-alik NASA itu. Hingga sampai saat ini, ia pun masih bertanya dan berusaha membuat Tuhan mengubah keputusanNya. “Kenapa, Kenapa bukan Aku?”

Aku akan melakukan apa pun agar aku bisa di dalam pesawat itu sekarang”. Katanya kuat dalam hati.

Hingga tujuh puluh tiga detik setelah peluncuran pesawat itu, Tuhan menjawab doanya. Pesawat itu meledak dan hancur berkeping-keping, menewaskan seluruh awak di dalamnya. Dan pesawat itu adalah Challenger.

Saat itu Frank SLazak, menyadari bahwa inilah alasan kenapa Tuhan tidak mengabulkan semua doanya. Tuhan telah menginginkan maksud yang lain atas keberadaan Frank di muka bumi. Dan dia tetap hidup untuk menunjukkan dan membukakan rasa syukur di hati setiap manusia di sekitarnya melalui kisahnya.

Tidak terjawabnya semua doa kita bukanlah berarti Tuhan tidak menginginkan kesuksesan terjadi pada diri kita, tapi ada hal yang lebih penting dan berarti untuk saya dan Anda lakukan dalam hidup ini, yang hanya Tuhan dan kita sendiri yang tahu. Banyak hal yang masih bisa Anda lakukan jikalau doa-doa Anda tidak dijawab sesuai dengan keinginan Anda.

Dikutip dari buku Life Signs,karya Andre Raditya

 

“Banyak hal yang masih bisa Anda lakukan jikalau doa-doa Anda tidak dijawab sesuai dengan keinginan Anda. “ (Andre Raditya)

 

Balada Dua Sahabat: Sedekah

Purwokerto, 12 Mei 2011

Balada Dua Sahabat: Sedekah

“Kamu mau pesen apa?” Tanya Kangkang pada Yuyu sambil membaca daftar menu. Sore itu duo sahabat baru saja menempati meja ketiga di bakso Pak Yadi. Mereka duduk berhadapan. Meja putih panjang yang cukup untuk enam orang memisahkan keduanya.

“Apa aja. Yang penting pake nasi. Sekarang aku ga pengen makan bakso.” Jawab Yuyu. “Aku laper banget. Sesiangan aku ga makan.” Mata Yuyu melihat seisi warung, dari sudut satu ke sudut lain. Suasana warung saat itu cukup sepi. Mungkin karena bukan jam makan. Dari delapan meja panjang yang ada di warung tersebut, hanya tiga meja yang terisi.

Warung pak Yadi adalah warung yang menu utamanya adalah bakso dan mi. Sudah beberapa kali Kangkang mengajak Yuyu makan disini, tapi baru kali ini Yuyu tahu bahwa terdapat gongso ayam di daftar menu.

“Gongso ayam disini enak lo. Rasanya… muach!!” Ibu jari dan telunjuk Kangkang membentuk lingkaran lonjong, menempelkannya pada bibir. Kemudian melepaskannya bertepatan dengan kata ‘muach!!’.

“Hehe…samain aja lah. Aku percaya sama kamu. Disini kan daerah jajahanmu.” Yuyu tersenyum melihat cara sahabatnya mengekspresikan enaknya gongso ayam. Kangkang pun memesan makanan pada mas-mas pelayan.

Kedua sahabat tersebut mengobrol tentang ‘four hours road trip’ yang baru saja dialami Yuyu. “Tadi tu padat merayap pas lewat pasar. Udah jalannya sempit, banyak pedagang di pinggir jalan, mobilnya yang lewat juga banyak. Motor aja susah buat nyelip, apalagi aku yang naik bis. Harusnya kan perjalanan cuma tiga jam. Ini molor sampe empat jam.” Keluh Yuyu.

“Jalan depan pasar itu emang udah langganan macet, yu. Apalagi ini jumat sore. Orang-orang pada mau wikenan di luar kota.” Ujar Kangkang, mencairkan suasana. Setelah itu pandangannya beralih pada seorang kakek tua yang mendekat pintu masuk warung.

Belum sempat Yuyu merespon Kangkang, Yuyu mengikuti kemana pandangan Kangkang mengarah. Dia pun membalikkan badan. Dilihatnya seorang kakek bertongkat, berumur sekitar 60 atau 70an. Tingginya sekitar 155 cm, tampak kurus. Kulitnya hitam terbakar sinar matahari. Sang kakek memakai peci hitam, baju batik lengan pendek berwarna dominan coklat, dan celana hitam setinggi betis. Sang kakek yang bertelanjang kaki menengadahkan tangan kanannya pada seorang pengunjung warung yang duduk di dekat pintu. Kemudian seorang mbak-mbak berjilbab merah memberi selembar uang pada kakek tersebut. Kakek tersebut tampak berterima kasih dengan cara menundukkan kepalanya dan langsung pergi meninggalkan warung. Perhatian Yuyu dan Kangkang pun beralih pada gongso ayam yang kini sudah berada di hadapan mereka.

“Hehe…selamat makaaan..” Wajah Yuyu memancarkan kebahagiaan karena akhirnya bertemu dengan hal yang sangat dinantinya: makanan enak. Satu sendok nasi yang berpadu dengan gongso ayam pun masuk kedalam mulutnya.

“Lo. kok enak??? Hehe…” Yuyu yang pertama kali dalam hidupnya makan gongso ayam, terkesan dengan rasanya yang enak. Yuyu makan dengan ekpresi bahagia. Matanya berbinar. Wajahnya sumringah. Saat mengunyah mulutnya tertutup sambil sedikit mengembungkan pipinya.

“Tuh kan bener.. emang enak kok.” Kangkang tahu sahabatnya yang satu ini tidaklah berbohong. Ekspresi khas wajahnya mengungkapkan segalanya.

“Liat kakek yang tadi, aku jadi inget tentang sedekah. Sering denger ga? Tentang kisah atau cerita nyata tentang sedekah. Yang sekarang lagi ngetren tuh. Bahwa kalo kita sedekah dengan nominal tertentu, maka Allah kita akan mendapat sepuluh kali dari nominal yang kita sedekahkan.” Kangkang bercerita sambil mengunyah makanannya.

“Pernah…” Jawab Yuyu, singkat. Dia tampak memisahkan nasinya menjadi dua bagian, berniat hanya memakan separuh dari nasi yang ada di piringnya. Yuyu pikir akan sangat kekenyangan jika dia makan nasi sebanyak itu.

“Aku pernah baca tulisan seorang ustadz terkenal yang mengkisahkan seorang karyawan SPBU. Si karyawan ini menyedekahkan semua gajinya sebesar.. kalo ga salah 1,7 juta. Trus beberapa hari kemudian si karyawan ini mendapatkan rejeki yang entah dari mana tapi insyaAllah halal, sebesar 17 juta. Itu kan sepuluh kali lipatnya. Dan masih banyak cerita-cerita serupa.” Kangkang menceritakan dengan semangat. Yuyu mendengarkan dengan cukup antusias, walaupun lebih berfokus pada gongso ayamnya.

“Yu. Kamu pernah ga ngalamin hal serupa? Aku ga pernah lo.” Tanya Kangkang.

“Pernah apa? Sedekah trus dapet balasan sepuluh kali lipatnya? Kayaknya ga pernah. Mungkin pernah, karena aku ga pernah ngitung-ngitung yang begituan. Sedekah mah sedekah aja. Ga usah mikirin balesannya apa dan berapa.” Respon Yuyu, datar. Wajahnya menampakkan ekspresi heran, kenapa sang sahabat menanyakan hal yang kurang penting seperti itu. Hal yang tidak biasa.

“Emang kamu pernah??” Yuyu balik bertanya. Sesendok nasi masuk ke dalam mulutnya.

“Ya belum pernah juga. Ku pikir kisah seperti itu hanya untuk memotivasi orang untuk lebih giat bersedekah. Dan aku yakin munculnya angka 10 juga bukan tanpa dalil dan dasar yang kuat. Yaa… aku juga ga tau dalilnya, tapi aku percaya lah sama pak ustadz.” Sendok dan garpu di genggaman Kangkang ikut bergerak mengikuti ayunan tangannya saat antusias bercerita.

“Kalau dalam ilmu marketing, kita perlu mempromosikan produk yang kita pasarkan dengan cara semenarik mungkin. Something’s interesting. Nah… ini mungkin cara yang menurut ustadz tersebut bisa menarik perhatian masyarakat untuk lebih giat bersedekah.” Kangkang mulai mengeluarkan teori marketingnya, kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Menunggu respon Yuyu.

“Yaah… menurutku si sah-sah aja. Setuju sama kamu. Itu adalah cara untuk menarik perhatian kita biar lebih giat bersedekah.” Yuyu berhasil menelan gongso ayam.

“Yang penting sob… jangan sampai kita berhenti atau bahkan berpikir untuk berhenti untuk bersedekah gara-gara kita ga merasa mendapat balasan yang setimpal dari sedekah kita.” kali ini pembicaraan mulai menghangat.

“Siapa aku yang berani itung-itungan sama Allah?? Sedekah 100 ribu, berharap balasan 1 juta. Hari ini aku masih sujud, hari ini aku masih bersyahadat, hari ini aku masih bisa bebas bernafas, hari ini Allah memudahkan urusanku aja aku udah bersyukur banget. Ku pikir itu semua malah nilainya jauh lebih besar dari 10 kali lipat nominal sedekah ku biasanya.” Ujar Yuyu. Kangkang setia mendengarkan, mulai menangkap bahwa Yuyu punya point penting.

“Aku bersedekah karena Allah memerintahkan dan Rasulullah mencontohkan. Dan sedekah ku itu ya salah satu cara ku bersyukur dengan semua itu. Walopun aku yakin, tanpa aku bersedekah pun, Allah tetap akan ngasih itu semua. As we all believe… Allah Maha Kaya. Tapi aku juga sering, ketika aku bersedekah aku membayangkan balasan yang jauh lebih besar dari Allah. Oya. Kemarin aku baca tulisan tentang sedekah di Koran Republika. Bentar. Ku liat dulu.” Yuyu mengambil HP dari saku kanannya, kemudian memilih republika di bookmark browsernya.

“Nih ya… ku bacain. Katakanlah, sungguh Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik. Qur’an Surat As Saba ayat 39.” Yuyu meletakkan HP nya di atas meja.

“Sebagai manusia biasa, aku berharap balasan sesuai janji Allah di ayat itu. Tapi aku juga berharap, semoga Allah berkenan membantu kita meluruskan niat dalam beribadah.” Ujar Yuyu, dengan nada penuh harapan.

“Jadi kalo kita mau sedekah ya sedekah aja. Hajar bleh!! Hehe…” Yuyu merapatkan jari-jari tangan kanannya, kemudian mengayunkan tangan kanannya ke depan meniru tebasan sebuah pedang.

“Haha…gue suka gaya lo, sob!!” Kangkang tertawa lirih, memperlihatkan giginya yang rapi.

“Tapi btw… nasi mu habis juga. Kayaknya tadi udah misah-misahin nasi deh. Ckckckckkck…” Kangkang menggoda sahabatnya.

“Hehe… laper tahu!!” Yuyu tersipu malu.

Balada Dua Sahabat: 3 idiots

Purwokerto, 8 Mei 2011

Balada Dua Sahabat: 3 idiots

“Give me some sun shine. Give me some rain. Give me another chance, I wanna grow up once again…” Yuyu berdendang, sambil menirukan gaya Joy Lobo dalam film 3 Idiots. “Give me some sun shine. Give me some rain. Give me another chance, I wanna grow up once again…” Yuyu terus menyanyi saat memasuki kamarnya yang cukup bersih, sejuk, dan berukuran 3 x 3 m2. Kangkang yang sudah sedari tadi membaca buku sembari duduk di karpet kamar, tersenyum melihat gaya sahabatnya menyanyi.

“Yaelah..nyanyi lagu itu mulu. Demam 3 idiots ya?? basi tau!!”, ujar kangkang, memasang muka protes.

“lo lo lo… emang kenapa?? Lagian kan itu salah kamu juga. Kamu baru ngasi tu film kemaren. Ya jangan salahin aku kalo aku telat mengidap virus 3 idiots. Tapi btw thanks ya… tu film inspiratif banget!! Ten thumbs up!! Hehe…”, wajah Yuyu sumringah. Yuyu kemudian merebahkan badan di kasurnya yang lumayan empuk dan terbungkus sprei motif garis-garis melengkung. Motif sprei yang menurutnya agak ‘gajebo’ (ga jelas bo, pen). Tapi Yuyu pasrah, karena sprei itu adalah jatah dari ibu kos.

“Sorry sob. Cuma film-film keren yang pantes masuk ke hard disc laptop ku. Hehe…iya…iya.. insyaAllah kalo ada film keren, aku langsung kasih ke kamu.” Kangkang kembali membaca bukunya.

“Eh btw..aku suka sama syairnya. Kalo dipikir-pikir, meaning banget.” Cerita Yuyu, sambil menatap langit-langit kamar. “Coba deh ditelaah… Give me some sun shine. Give me some rain. Give me another chance, I wanna grow up once again… Kalo kita pengen grow up, kita butuh sun shine, rain, dan chance.” Yuyu menggerakkan tanggannya saat menjelaskan, dengan pandangan tetap tertuju pada langit-langit kamar.

“Hangatnya sun shine bisa diartikan ujian kebahagiaan. Dinginnya rain diartikan ujian yang tidak menyenangkan. Sedangkan chance adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Kesempatan itu juga bisa berupa kedua ujian tadi.” Kali ini Kangkang mulai mengalihkan perhatiannya pada Yuyu, menunggu point apalagi yang akan keluar dari otak sang sahabat. Kangkang tahu walaupun sahabatnya itu tampak agak selengekan, Yuyu kadang bisa mengeluarkan kata-kata yang tidak terduga. Terutama saat wajahnya mulai tampak serius.

“Bayangin sob. Bagaimana mungkin sebuah pohon bisa tumbuh dan berbuah tanpa sinar matahari dan hujan. Sinar matahari membantu proses fotosintesis, proses pembuatan sari makanan bagi tumbuhan. Air hujan yang segera diserap oleh akar dan mengalir ke seluruh bagian tumbuhan. Kedua proses yang merupakan aktivitas utama sebuah tumbuhan. Bagaimana mungkin sebuah tumbuhan bisa hidup dan tumbuh tanpa kedua aktivitas tersebut???” Yuyu membalikkan badannya ke kiri, menatap mata Kangkang dengan serius.

“Bagaimana mungkin kita menjadi pribadi yang lebih baik tanpa ujian dari Allah. Baik ujian bahagia maupun ujian yang kurang menyenangkan. Saat menjalani ujian itu kita akan belajar banyak hal. Kita akan menangis dalam sabar saat semua ujian itu terasa sesak di dada. Kita akan menyunggingkan senyuman syukur saat bahagia melanda. Apa jadinya hidup kita tanpa itu semua?? Karena ku pikir… itulah inti dari hidup kita. Menjalani ujian-ujianNya. Kalo hari ini ga ada keduanya… hari ini kita mau ngapain??” nadanya memuncak pada kalimat terakhir.

“hey… u got the point!! I really agree with u, sob!! jadi jangan bilang Allah ga adil kalo kita lagi diuji!!”, Kangkang tersenyum, sambil mengarahkan jari telunjuk kanannya pada Yuyu. “Tersenyum saat sun shine, menangis saat rain. Apapun yang kita lakukan, apapun keadaan kita, yang penting kita selalu ingat pada Allah. Kita selalu berdoa dan menggantungkan diri pada Allah.”

“hey… feel free if u want me to be your shoulder to cry on.hehe..” tambah Kangkang.

“hehe… thank u so much, sob!! Tapi malu ah. Masa nangis di depan kamu. Kalo kata Celine Dion, let the rain come down and wash away my tears. Atau kata mas-mas A1: Feels like I’m walking in the rain. I find myself try to wash away the pain. Jadi pas hujan-hujanan, aku bisa sekalian nangis. Toh ga ada orang yang bisa bedain, mana air mataku, mana air hujan. Jadi ga malu deh. Hehe…” Yuyu tersenyum lebar dan mengangkat alis kanannya, ekspresi bangga. “So… I got another point, didn’t i??”

“………………………………”, Kangkang speechless melihat muka ‘licik’ khas sahabatnya tersebut.

Salvadora persica: Sebuah Gaya Hidup Sehat

Purwokerto, 6 April 2011

bagian siwak yang sudah dikupas

Penelitian-penelitian dunia kesehatan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sunnah atau tata cara hidup yang dicontohkan Rasulullah SAW terbukti baik untuk kesehatan. Seperti bangun di pagi hari, gerakan dalam sholat, berwudhu, puasa, makan dengan tangan kanan, bahkan hal sederhana seperti mandi. Yang paling membuatku ‘amazed’ adalah cara yang Rasulullah SAW contohkan untuk membersihkan kemaluan setelah buang air. Rasulullah mencontohkan menyiramkan air dari arah depan ke belakang. Kenapa harus dari depan ke balakang? Karena jika kita menyiramkan air dari belakang ke depan, maka kuman yang ada di rectum (dubur) akan berpindah ke vagina. Which is…it’s something we don’t want it happens. Kuman-kuman itu bisa menimbulkan infeksi di vagina.

Sampai suatu hari ketika aku kuliah, aku membaca buku karya Jerry D Gray. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa fluoride dalam pasta gigi akan menimbulkan efek samping dalam jangka panjang berupa antara lain pinggul retak, kanker tulang, penyakit Alzheimer, infertilitas, dan kerusakan otak. Fluoride memberikan efek yang kecil, bahkan tidak ada sama sekali terhadap kemungkinan gigi berlubang pada manusia. Penelitian Dr. John Colquhoun terhadap 60.000 anak-anak sekolah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam kondisi gigi pada bagian yang menggunakan fluoride dan yang tidak menggunakan fluoride. Beliau bahkan menemukan bahwa pada beberapa anak, pada bagian gigi yang menggunakan fluoride justru mengalami fluorosis (kelainan yang terjadi pada permukaan enamel gigi yang ditandai dengan bercak putih, kuning, sampai coklat kehitaman, disebabkan oleh peningkatan kadar fluor saat pembentukan gigi).

Masih menurut buku tersebut, laporan UNICEF (1999) menyatakan: Beberapa pemerintahan kurang memahami betapa beracunnya Fluoride bagi tubuh.  Prof Albert Schartz, Ph. D, penemu Streptomycin dan nobel prize winner (mikrobiologi) menyebutkan: penggunaan Fluoride adalah kesalahan terbesar yang pernah terjadi dan telah digunakan lebih banyak umat manusia daripada kesalahan-kesalahan lain yang pernah terjadi. Selain fluoride, buku ini menceritakan berbagai macam penggunaan zat-zat dalam makanan dan obat-obatan yang ternyata menurut penelitian berbahaya bagi tubuh (yang masih diberi ijin oleh Food and Drugs Admission, badan pengawas obat dan makanan pemerintah Amerika). Para peneliti yang mengungkapkan hasil temuan ini kebanyakan dipecat, bahkan ada yang dibunuh (direkasayasa seperti sebuah kecelakaan). Kita boleh percaya atau tidak percaya terhadap isi buku ini, yang kata pengantarnya ditulis oleh mantan Menkes dr. Siti Fadillah Supari. Tapi bagi para penganut teori konspirasi, sepertinya buku ini cukup recomended.

Anyway, terlepas dari itu semua, aku kembali kepada satu pemikiran. Suatu pemikiran bahwa semua gaya hidup yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah menyehatkan bagi tubuh, termasuk penggunaan siwak. Bahkan Rasulullah SAW bersabda,

“Seandainya tidak memberatkan umatku, maka akan ku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat” (HR Bukhari dan Muslim).

Begitu pentingkah siwak? Sampai Rasulullah SAW bersabda seperti di atas? Aku benar-benar penasaran dengan siwak. Akhirnya aku mencari informasi tentang siwak di internet. Hasilnya??? Di luar dugaan. Ternyata banyak sekali penelitian tentang siwak di dalam maupun luar negeri (khususnya di barat). “Kemana aja aku? kenapa aku baru tahu info sepenting ini???” pikirku saat itu.

Siwak (Salvadora persica, arak tree, peelu tree) adalah sebuah tanaman yang bisa dimanfaatkan daun, kayu, dan akarnya. WHO sendiri merekomendasikan penggunaannya untuk kebersihan mulut (Rasulullah SAW sudah merekomendasikannya lebih dari 14 abad lalu). Siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, mengikis plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Beberapa merk pasta gigi diekstrak dari siwak.

Aku pun berdiskusi dengan seorang sahabat. Pertanyaan yang dilontarkannya sama seperti yang ku pikirkan saat pertama kali ingin menggunakan siwak. “emang enak lin? Kan nanti nafas kita ga seger.” Ku pikir rasa segar itu hanya sebuah kebiasaan. Rasa segar dari penggunaan pasta gigi pun tak berlangsung lama. Ku pikir rasa mint pada pasta gigi hanya menutupi bau mulut, bukan mengatasi langsung ke sumber bau (yang ini subjektif). Siwak mengandung minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap. Informasi selengkapnya ada di bawah ini.

Siwak memiliki kandungan kimiawi sebagai berikut:

1.       Antibacterial acids, yang berfungsi membunuh bakteri, mencegah infeksi, dan menghentikan perdarahan pada gusi.

2.       Kandungan kimia seperti klorida, potassium, sodium bicarbonate, silica, sulfur, vitamin C, trimethyl amine, salvadorine, tannins, dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan, dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.

3.       Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.

4.       Enzim yang mencegah pembentukan plak yang menyebabkan radang gusi dan tanggalnya gigi secara prematur.

5.       Antidecay agent (zat anti pembusukan), yang menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Siwak juga merangsang produksi saliva (air liur) lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Aku pun mulai memakai siwak saat ramadhan tahun kemarin (September 2010), setelah sahabatku membawakannya. Dia juga yang menjelaskan cara penggunaannya. Kayu siwak berwarna coklat. Terdiri dari serabut-serabut kayu memanjang, yang dibungkus oleh kulit kayu. Ukurannya bermacam-macam, mulai dari sebesar sedotan air mineral gelas, sedotan es teh, sampai sebesar kabel seterika/laptop (ukuran siwak yang pernah ku lihat langsung, masih memungkinkan terdapat berbagai macam ukuran siwak). Siwak yang dibawa sahabatku berukuran sebesar kabel seterika/laptop. Terlihat sangat kuat dan keras, tapi ternyata kulitnya sangat mudah dikupas. Baunya pun khas bau siwak (I’ve never smelled such smell before). Aku biasa membelinya di toko oleh-oleh haji. Ada yang dijual tanpa kemasan (it means u can touch the miswak) dan ada juga yang dikemas dalam kemasan hampa udara. Aku sarankan membeli jenis kedua karena kebersihan dan kualitasnya lebih terjamin. Satu batang siwak (ukuran 10 – 15 cm) dijual dengan harga Rp. 8000 – Rp. 12.000 (mungkin ada toko yang menjual lebih murah). Cara menggunakan siwak adalah:

1.       Basahi/siram siwak dengan air mengalir

2.       Kupas kulit kayu siwak sepanjang 1 cm, biasanya dengan menggunakan gigi (digigit). Ada buku yang menyarankan ditumbuk

3.       Gosokkan bagian siwak yang sudah dikupas pada seluruh bagian gigi (gerakan menyikat gigi seperti biasa)

4.       Cuci kembali dengan air mengalir

5.       Bagian siwak yang dikupas ini bisa dipakai berkali-kali. Bila sudah tidak terasa rasa siwak, potong pada bagian tersebut dan kupas bagian siwak selanjutnya

6.       Sebelum memakai siwak biasanya aku menggunakan sikat gigi berbulu halus tanpa pasta gigi untuk membersihkan sisa makanan

7.       Disarankan menggunakan siwak setiap sebelum sholat, setelah bangun tidur, saat kesegaran mulut berkurang, saat puasa, dan saat buka puasa. Biasanya aku juga menggunakan siwak setelah makan

8.       Simpan di tempat yang bersih dan  tidak lembab

9.       Jauhkan siwak dari toilet

Banyak perubahan yang ku alami setelah menggunakan kayu siwak. Perubahan-perubahan tersebut antara lain noda berwarna coklat di gigi seri atasku hilang. Selama aku memakai pasta gigi, noda tersebut tidak bisa hilang. No matter how I tried. Munculnya bau mulut yang selama ini aku takutkan karena tidak lagi memakai pasta gigi, ternyata tidak terjadi. Ketika memakai pasta gigi, saat bangun tidur bau nafasku kurang ‘asik’. Padahal aku sudah menggosok gigi sebelum tidur dan merasa yakin bahwa gigiku sudah bersih dari sisa makanan. Biasanya aku langsung menggosok gigi untuk menghilangkan bau tersebut. Tapi setelah memakai siwak, bau nafasku berkurang. Plak (noda coklat yang biasanya terdapat di bagian dasar gigi yang dekat dengan gusi) di gigiku pun berkurang. Selama ini aku harus pergi ke dokter gigi untuk membersihkannya. Aku masih melihat sedikit plak di beberapa bagian gigi, mungkin karena ada bagian gigi yang tidak terjangkau oleh siwak karena cara menyikatku yang kurang sempurna. Over all.. Aku merasa jauh lebih baik, lebih sehat. Tapi dari semua manfaat tersebut, aku merasa lebih puas karena aku menjalankan salah satu sunnah Rasul.

Siwak sudah terbukti secara ilmiah menjadi salah satu gaya hidup yang sehat. So what are u waiting for???

Semoga bermanfaat ^_^

*Silahkan mencari informasi tentang siwak selengkapnya di daftar pustaka di bawah atau tinggal nanya mbah google atau tante wiki :p

 

Daftar pustaka

Ramadhani, Egha Zainur. 2007. Super Health: Gaya Hidup Sehat Rasulullah. Yogyakarta: Pro U Media

Gray, Jerry D. 2009. Deadly Mist: Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia. Jakarta: Sinergi Publishing

http://www.doctorshangout.com/forum/topics/oral-hygiene-other-systemic

http://www.eprints.ui.ac.id/11672/

http://www.fao.org/docrep/x5327e/x5327e1j.htm

http://www.healthymuslim.com/articles/zruui-ibn-al-qayyim-siwak-has-numerous-benefits-for-oral-hygiene.cfm

http://www.idai.or.id/../artikel.asp

http://www.wikipedia.com

http://zonapencarian.blogspot.com/2010/09/mengenal-apa-itu-siwak.html

contoh siwak dalam kemasan



Sebenarnya kita lebih takut sama siapa???

Purwokerto, 26 Maret 2011

Beberapa hari lalu aku mengikuti sebuah pelatihan. Aku dan para peserta lain diminta oleh panita untuk segera menuju aula untuk mengikuti acara penutupan. Saat itu aku tak tahu pukul berapa. Satu persatu peserta lain memasuki aula. Cukup lama kami menunggu. Beberapa panitia masih keluar masuk aula, ada juga yang duduk menghadap laptopnya. Adzan ashar terdengar dari masjid yang tak jauh dari aula. Kami tetap berada di dalam aula. 15 menit berlalu. Panitia mengatakan bahwa masih harus menunggu karena pembicara utama sedang melaksanakan sholat ashar. 20 menit. Aku mulai gelisah. Ibu di sebelahku juga merasakan hal yang sama. “udah adzan kan ya? sholat sekarang ga ya mbak?? kita masih nunggu sampe jam berapa nih?” 30 menit. Akhirnya aku mengangkat tangan dan meminta ijin pada panitia untuk sholat. Seorang panitia meresponku, tapi kemudian meminta pendapat seorang panitia lain. Panita tersebut (yang dimintai pendapat) mengangkat tangan kanannya. Yeah.. I knew what it means. We still have to wait, don’t we?

Acara pun dimulai. Ketua panitia membuka sambutan dengan “kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT….” Tiga kata langsung terbersit dalam benakku. Tragis, miris, dan ironis. Bagaimana mungkin kami memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT sementara di saat yang sama kami (bahkan mungkin termasuk ketua panitia) belum melaksanakan sholat. Padahal saat itu adzan sholat ashar sudah berlalu 45 menit. Ditambah lagi dengan ketidakpastian sampai kapan acara ini selesai.

Dan yang menurutku paling tragis adalah aku, diriku sendiri. Kenapa aku masih duduk? Tetap duduk ketika panitia mengatakan kami harus menunggu. Sebenarnya aku lebih menghiraukan seruan adzan atau seruan panitia?? Sebenarnya aku lebih takut pada Allah atau pada panitia (yang notabene adalah sama-sama manusia)?

Mungkin kita semua sering mengalami hal ini. Saat kerja di kantor, rapat, seminar, atau acara lain. Kita sering menunda sholat karena alasan yang tidak syar’i. Karena tidak enak, takut ketinggalan acara, atau alasan apapun yang tidak ada dasar hukumnya.

Sampai saat ba’da maghrib, aku membaca sebuah ayat:

Dan milikNya meliputi segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan kepada-Nyalah (ibadah dan) ketaatan selama-lamanya. Mengapa kamu takut kepada selain Allah? (QS An Nahl: 52)*

Nah lo…

Sebenarnya kita lebih taat pada sesama manusia atau pada Sang Pemilik seisi langit dan bumi???

Sebenarnya kita lebih takut pada sesama manusia atau pada Sang Pemilik seisi langit dan bumi???

Semoga bermanfaat

*ni ayat berat bgt ya???



Belajar dari Seorang Dewi

Purwokerto, 17 Maret 2011

“halo mbak…ketemu lagi!!” seperti biasa pagi itu dia menyapaku dengan wajah sumringah

Ku perhatikan ia memang  selalu seperti itu

Ia mudah bergaul dan ramah pada siapa saja

Saat bercerita

Wajahnya ceria

Matanya berbinar-binar

Senyuman sering tersungging dari wajahnya

Tawanya seakan mengajak kita untuk ikut ceria

Tangannya berayun ke depan

Sebagai penegas dan penjelas dari ceritanya

Ku lihat dia sedang berkaca

Dia palingkan wajahnya ke kanan, ke kiri

Meratakan bedak pada wajahnya

Mengoleskan lipstick warna merah di bibirnya

Merapikan posisi jilbabnya

Senyuman di bibirnya pun mengakhiri sesi ‘dandan’ ini

Siapakah dia? Dia adalah Dewi. Pagi itu ia akan menjalani kemoterapinya yang ke lima. Dewi adalah salah satu penderita kanker payudara sejak lima tahun lalu, dan sekarang sudah pada stadium tiga. Usianya baru 25 tahun. Ku pikir dia masih sangat sehat, saat aku pertama kali bertemu dengannya di ruang khusus untuk para pasien kanker yang akan menjalani operasi dan kemoterapi (terapi obat anti kanker). Tapi kemudian aku mengetahui bahwa rambutnya mulai rontok. Payudara kanannya pun sudah terganti oleh luka yang cukup parah. Lukanya berdiameter sekitar 10 cm, dalamnya sekitar 3 cm. Merekah seperti kembang kol yang berwarna merah. Mengeluarkan darah dan pus (cairan encer berwarna kuning) di salah satu sudutnya. Saat ku rawat lukanya, ia bercerita tentang perjalanan penyakitnya. Bagaimana kehidupannya sebelum terkena kanker, pertama kali didiagnosa kanker, mencari pengobatan alternative, sampai bagaimana munculnya luka itu dan menjalani beberapa kali kemoterapi. Tentunya masih dengan penuh antusias dan wajah yang ceria. Dia mengatakan bahwa akan terus menjalani kemoterapi karena dia ingin sembuh, walaupun dia tidak tahu kapan datangnya waktu itu. Subhanallah… I was amazed!! How could it be?

Bagaimana mungkin dia bisa seoptimis itu? bisa seceria itu dengan keadaannya? Dengan lukanya, dengan rambutnya yang mulai rontok, dengan ancaman metastase (penyebaran) kankernya. Bagaimana mungkin dia bisa seceria itu sementara di saat yang sama ku lihat seorang pasien lain menangis karena penyakit yang sama. Padahal dengan luka separah itu, ia bisa saja (memutuskan untuk) minder, rendah diri, atau sekedar memasang mimik sedih. Apalagi dia masih 25 tahun, saatnya melakukan banyak hal dan berhubungan dengan banyak orang.

Ku pikir tidaklah mudah baginya untuk mencapai fase dimana ia kini, yaitu fase acceptance. Fase dengan manifestasi seperti pada diri Dewi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia melalui fase-fase sebelumnya. Bagaimana ia melewati fase anger (marah), denial (menyangkal), bargaining (tawar-menawar), dan depression (depresi). Apakah dia pernah menangis? Apakah dia pernah menarik diri dari lingkungan? Ku pikir sebuah perjuangan yang cukup menguras otak, hati, dan tenaga. Perjuangan yang tidak mungkin jika kita hadapi sendirian tanpa bantuan orang lain. Dan yang pasti tanpa bantuan Allah SWT.

So… bagaimana dengan kita? Semoga kita banyak belajar dari seorang Dewi

Ayo kita saling menyemangati, teman-teman!!! ^_^

The Unforgettable Diklat Prajab (part 3-tamat)

Detik-detik menjelang ujian (special request nya Mas Kholid)

Tibalah minggu ketiga, minggu terakhir kami menjalani diklat prajab 2011. Sedih?? Lumayan. Karena hanya dalam hitungan hari aku harus berpisah dengan teman-teman yang sangat menginspirasi. Harus berpisah dengan teman-teman yang menyenangkan. Tak lama lagi kami harus bersiap menghadapi realita dan menerapkan apa yang sudah kami pelajari, diskusikan, dan sepakati di kelas. Tentang dinamika kelompok, tentang team building, tentang percepatan pemberantasan korupsi, tentang pelayanan prima, dll. Bisakah kami menerapkan itu semua??? Meminjam istilah Mas Dudun, kami akan segera menjalani proses ‘idealita vs realita’.

Kuputuskan untuk menutup buku-buku kesayanganku dan mulai mereview materi-materi ujian. Aku berrencana untuk membaca kembali modul-modul materi ketika istirahat ba’da ashar. Ternyata prediksiku meleset. Justru hari-hari terakhir jadwal kami sangat padat. Perkuliahan baru berakhir 30 menit menjelang maghrib. Jadi aku membaca dengan metode ‘skimming’ (metode yang selalu kupakai saat nongkrong di gramed dengan tujuan melahap banyak buku tanpa membelinya. Hehe…). Bahkan ada jadwal komputer selepas makan malam, yang ternyata materinya ‘hanya’ membuat blog. Berhubung koneksi internet di lab komputer cukup lemot, Bapak pengajar meminta kami yang sudah memiliki blog agar memberi kesempatan pada teman yang belum memiliki blog. Dengan kata lain, kami diminta untuk tidak menggunakan internet untuk melonggarkan band width (bener ga istilahnya ‘melonggarkan’??). Ibarat acara masak-masak, Bapak pengajar menjelaskan urut-urutan bagaimana cara membuat blog. Ku perhatikan beberapa teman mengikuti dengan antusias. Sementara aku lebih tertarik ngegame minesweeper dan purble place. And I’m the best timer, as always. Hehe.. dan karena tentu saja hanya aku yang main minesweeper di komputer itu. Saat itu aku berandai-andai, kalau saja materi malam itu adalah web design….

Esok harinya jadwal perkuliahan kami full sampai menjelang maghrib. Di sela-sela coffee break, Mas Broto membagikan foto kopi materi yang cukup tebal. “bakal kebaca ga neh???” Pikirku. Hari ujian semakin dekat. Suasana kelas tidak banyak berubah seperti hari-hari biasa. Saat coffe break ada yang merokok, mendengarkan music, browsing internet, serta mengobrol. Hanya beberapa teman yang terlihat membaca modul materi sebelumnya. Kami semua saling bertanya, “udah baca modul apa aja??” dan jawabannya mayoritas adalah, “ga sempet. Ngantuk banget kalo udah sampe kamar.” Selepas apel malam pun aku masih mendengar suara riuh ramai dari arah warung Pak Kece.  Sementara itu semakin banyak gossip yang santer beredar mengenai ujian. Ada yang bilang bahwa teman-teman angkatan 1 dan 2 (mereka ujian 2 hari sebelum angkatan 5 dan 6) banyak yang tidak lulus. “katanya si banyak yang ga lulus Mbak. Masa mau diremidi semua?? Ya udah. Akhirnya dilulusin semua.” kata (sebut saja) D, sang sumber berita. “aku denger ujian itu cuma buat nentuin urutan peringkat kelas, semua si udah pasti lulus.” Ujar A, sumber kedua. “halah-halah…yang bener yang mana neh???” apapun gosipnya, intinya kami harus belajar.

Malam menjelang ujian pun tiba. Badanku cukup capek setelah seharian beraktivias. Aku membaca beberapa modul yang sudah kusiapkan di atar kasur. Ku lihat Bu Heni duduk di atas kasur sambil membaca dan menghafal materi dengan serius. Pandangannya lurus tertuju pada langit-langit kamar, jari-jari tangannya membentuk angka tiga, dan mulutnya bergumam lirih. Semua modul dan hand out tampak tertata rapi di sampingnya. Beberapa hari ini Bu Heni memang tidur bertemankan modul-modul materi. “yang penting udah ditata Mbak. kalo udah begini jadi tenang.” Kata Bu Heni, beberapa hari lalu. Bu Heni adalah salah satu dari sebagian besar peserta angkatan 5 yang sangat serius dan bersungguh-sungguh dalam menghadapi ujian. Angkatan 5 sepertinya selalu mengkopi hand out semua materi, yang bahkan kami (angkatan 6) tidak terlalu berminat untuk menanyakannya pada Mas Broto atau Mas Widya. “Hayo Mbak… UU tentang dasar pelayanan prima itu nomer berapa??” Tanya Bu Heni pagi tadi saat kami bersiap-siap apel. “hehe…UU nomer berapa ya bu?” Aku bertanya balik sambil senyam senyum. Bandingkan bagaimana aku dan sebagian besar teman-teman angkatan 6 menghadapi ujian. Sangat kontras!!!!

Ku lirik jamku. Pukul 21.00. “Ya Allah… aku kan mau baca. Kok aku malah ngantuk??” Protesku. Aku memutuskan untuk mengirim sms ke beberapa teman angkatan 6, sekaligus ingin mengetahui keadaan mereka (padune sms, padahal golek bolo sing podo ra sinau ne. hehhe…). “temans..met belajar, met tidur.. smg Allah SWT memudahkan.. n bisa lulus semua :D . salam jumping jack :p.” Sms ku kirim ke nomor beberapa teman angkatan 6.

Jawaban teman-teman:

@Mbak Ayu Agastini: “amieeennnn jooooosssssss!!!!!!!!”

@Adit: “Met belajar apa met tidur? Kita kan dituntut konsisten.. jd yg bnr yg mana? :p Sikap pokok!! ki

aku lagi smsan+OL+ngemil+(pura2) sinau. Sesuk aku mohon bntuannya (contoni) ya..!? :p”

@Mas Budi: “amien..amien.. terima kasih bu.. smga lulus dng predikat membanggakan.”

@Mbak Wahyu: “okreee mksh ya. yupz belajar. Salam jumping jack. 5×8= 40 jack. Hehe”

@Mas Kholid: “siap..angkatan 6 sesuaikan dg rencana.. kerjakan! Ki lg bingung merencanakan meh sinau

opo turu.. hehe.. akhirnya ke pak kece aja..cari doping.”

@Mas Broto: “3×8 hitungan.. hehehehe… gutlak.”

@Mbak Rini: “amien.. matur teng qyu :/”

@Mbak Deasi: “met belajar jg y..ntar kt bljr breng di mimpi.. amiiiinnn.. joooooosssss.. ;D”

@Mas Widya: “joss, met sinau jg ya,”

@Mbak Ari: “Amin.. makasi Lin doanya, met belajar jg..”

@Mbak Dewi: “amin.. sukses juga y.”

@Mbak Santi: “thankyu.. tp jd bingung ki..meh bo2k, bljr, pa jamping jack disik ya..”

@Mas Dudun: “amiin. Sikap pokok.. zzz..”

 

(sms di atas ditulis sedemikian rupa sehingga hampir mirip dengan aslinya)

 

Setelah menerima sms dari teman-teman, aku tidur dengan tenang karena aku tahu malam itu beberapa dari mereka tidak belajar. Hehehe..

Jumat pagi. Kali ini selepas subuh aku tidak perlu lagi terburu-buru memakai baju olah raga dan bergerak ke lapangan. The good news is.. from now on, (insyaAllah) there would no more jumping jack in my life. The bad news is.. hari ini ujian!! Tapi sebenarnya perasaanku biasa-biasa saja. Tidak terlalu mengkhawatirkan ujian kali ini. Tidak seperti aku mengkhawatirkan UTS, UAS, dan ujian responsi jaman kuliah dulu. Tidak bisa dibandingkan. Ku pikir aku hanya butuh sedikit skimming, berharap semoga tidak banyak soal tentang nomor UU, dan soal-soal yang keluar bisa dijawab dengan sedikit permainan logika. Ku perhatikan Bu Heni yang masih tampak belajar dengan serius. Posisinya masih sama seperti tadi malam. Duduk di atas kasur, dengan hand out dan modul yang masih tertata rapi disampingnya. Matanya menatap langit-langit kamar, jari-jari tangannya bergerak membentuk angka-angka, wajahnya serius, sambil sesekali tersenyum karena berhasil menghafal beberapa point. Sedangkan aku??? Aku hanya berbaring sambil membolak-balik halaman modul dengan kecepatan 10 detik per halaman, dan menandai kata-kata kunci setiap bahasan dengan bolpoin. Di luar sana terdengar suara sekelompok orang yang meneriakkan, “Satu!! Dua!! Tiga!!…” yeah.. bye bye jumping jack!!!

Suasana makan pagi masih seperti hari-hari sebelumnya. Makanan di hari-hari terakhir terasa lebih enak, dan lebih bervariasi. Namun makan pagi kali itu diwarnai dengan pertanyaan, “udah pada belajar??” dan jawabannya seakan sudah pasti, “belum semua. La wong tadi malem tidur ok. Cape bgt.” Ketua senat saat itu juga meminta semua peserta agar mendoakan angkatan 5 dan 6 yang akan melaksanakan ujian. Pergerakkan long march menuju kelas pun kali ini tidak diwarnai dengan adegan lari-lari memperebutkan kursi favorit. Kami tahu, kursi-kursi sudah diatur sesuai dengan absen.

Pukul 07.00 kami memasuki ruang 6, ruang kelas kami. Aku dan teman-teman mencari meja yang tertempel nomor urut kami masing-masing. “yaah..kok aku di depan??” protes seseorang (aku lupa siapa). Aku duduk di deret nomor tiga sayap kanan, tepat di bawah AC. “asiikk..deket lina. Bisa nyontek!!” ujar Mas Nugraha yang duduk di belakangku, sumringah. “haha…ga ngefek kali mas!!” Aku merespon. “yaaahh.. lina lagi..lina lagi…” Mas Tunggul yang ternyata duduk di depanku, menyapa. “tenang Mas. tinggal satu hari lagi. mulai besok siang Mas Tunggul ga bakal ngeliat aku lagi.. hehe..” jawabku. Mas Dudun duduk di depanku, arah jam 10.32 (hehhehe..), Mas Amrih duduk di samping kiriku.

Sambil menunggu ujian dimulai, aku membaca modul materi. Tampak teman-teman yang duduk di sayap kiri dan sayap tengah melakukan hal yang sama. Pemandangan yang sangat jarang terjadi. Tak lama kemudian, ku lirik jam dinding kelas. Pukul 07.45. Lewat dari jadwal, seharusnya ujian dimulai pukul 07.30. Mas Dudun mulai tampak bosan menunggu, “do moco kabeh ik.” Ujarnya. Beberapa kursi di sayap tengah mulai kosong. Mas Budi berjalan meninggalkan kelas bergabung dengan Mas Jati, Mas Adi, dan Mas Erik yang sudah dari tadi merokok di depan pintu. Tak lama kemudian Mas Budi masuk kelas sambil membawa cangkir. “Mas Tunggul. Kofi brik dulu Mas Tunggul. Tuh di luar lagi pada kofi brik. Mas Dudun!! Kofi brik dulu Mas!!” ajak Mas Budi dengan logat jawanya yang kental, sambil meminum kopi dari cangkir yang sebenarnya kosong. “Cofee break?? Yang bener??” ujar Mas Tunggul, yang kemudian keluar kelas dan segera tahu bahwa itu cuma tipuan belaka.

Akhirnya ujian pun dimulai pukul 08.10. Terdapat 100 soal pilihan ganda yang harus kami jawab. Ku baca satu persatu, ternyata tidak terlalu sulit. Cukup bisa dilogika (hehhee..gaya bgt ya?? kan soalnya yg gampang, jawabnya yang susah. Hehe). Saat itu kelas tampak begitu tenang. Kali ini bukan karena kami terlelap tidur, tapi karena serius mengerjakan soal ujian.

Siangnya setelah ujian, kami mempersiapkan malam inagurasi di aula Muria. Kami menata kursi dan meja, serta sedikit membicarakan acara nanti malam. Saat itu aku bertugas sebagai PJ konsumsi. Bagiku itu tugas yang menantang, walaupun bagi sebagian orang tugas itu sangat simple dan gampang. Seumur hidup aku tidak pernah jadi PJ konsumsi. Paling hanya sebagai anggota, seksi sibuk di bagian konsumsi.

Malam inagurasi diawali dengan upacara pelepasan ID card secara simbolik oleh Pak Yunus. Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh ketua senat (Mas Tunggul), Mas Widya dan Mas Bayu sebagai ketua angkatan 5 dan 6. Kemudian kami menonton sebuah tayangan tentang keseharian kami selama mengikuti diklat. Ada foto kami sedang belajar dan presentasi di kelas, peserta yang tidur di kelas, jalan long march dan lari menuju kelas, foto culun 6 cowok angkatan 6 dengan pakain olahraga, sampai foto Mas Diki angkatan 5 sedang merokok. Seisi aula tertawa setiap kali slide berganti. Kemudian inagurasi berlanjut dengan acara bernyanyi bersama. Tapi ku pikir lebih mirip acara karaokean karena hanya sebagian kecil yang ikut bernyanyi. Selama acara aku hanya duduk, tertawa, ngobrol, dan sedikit foto-foto.

Ada yang berbeda dari malam inagurasi ini, yaitu drama kocak yang dimainkan oleh Mas Dudun, Mas Budi, Mas Aji, dan Mas Kholid. Mas Dudun berperan sebagai binsuh, memimpin peserta prajab senam pagi. Para peserta prajab (Mas Budi, Mas Aji, dan Mas Kholid) berbaris bersiap-siap mengikuti senam pagi. Mas Budi berperan sebagai dokter Sp. OG, sedangkan peran Mas Aji dan Mas Kholid, kurang jelas. “Yang sakit, hamil, maju ke depan!!” seru Mas Dudun. Ketiga peserta maju ke depan. “Sikap pokok!!!” lanjut Mas Dudun. “Joooossss!!” jawab ketiganya sambil memajukkan badan. Kami semua tertawa melihat ekpresi lugu para pemain.

Acara inagurasi ditutup dengan lagu kemesraan. Lagu ini sepertinya jadi lagu wajib setiap moment perpisahan. Mirip pas jaman perpisahan SMA dulu. Acara inagurasi pun selesai. Sementara angkatan 5 membereskan kursi dan meja, kami masih melanjutkan acara tukar kado. Kado yang kami beli harus bernilai maksimak Rp. 20.000. Kami tidak tahu dari siapa kado yang kami terima, karena semuanya terbungkus kertas koran. Aku mendapat notes warna merah dan hitam. Cocok!!! Cos I need it!! Ada yang mendapat tempat makan, tempat minum, coklat, dsb.

 

Hmmm… Sadly, today is the last day. Setelah makan pagi, kami berkumpul di kelas lantai 1 untuk pembagian STTP dan sekaligus pengumuman peringkat kelas. Mas Widya dan Mas Erik duduk di meja depan, tampak sibuk mengumpulkan dan memindahkan file foto-foto kami selama prajab. Mas Broto, sebagai bendahara (tampaknya bakal jadi bendahara abadi angkatan 6), mengumumkan sisa kas angkatan 6. Mas Tunggul membuka acara dan membagi STTP sekaligus pengumuman peringkat kelas. Peringkat kelas dari urutan 1 – 10 adalah Mbak Rini, Mas Dudun, Adit, Mbak Wahyu, Mbak Rani, Mbak Mila, Mas Kholid, Mbak Patopo, Mas Rizky, dan Mbak Dewi. Kemudian semua peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, unek-unek, atau apa pun di depan kelas. Tidak banyak yang bisa ku ingat. Kebanyakan dari kami mengingatkan untuk tetap saling menjaga silaturahmi dan menjaga kekompakan, serta mengamalkan ilmu yang kami dapat selama diklat prajab. Yang ku ingat dari kata-kata Mas Dudun adalah kebersamaan, persaudaraan, dan idealisme. Saat giliran Mas Fendy, “saya dan istri baru beberapa bulan pindah ke semarang. Hidup dua batang kara di sini. Selama tinggal di Semarang, teman-teman angkatan 6 adalah saudara pertama saya!” hiks..yang ini bener-bener bikin aku terharu.

Saat-saat perpisahan benar-benar terjadi. Satu persatu dari kami pergi dari asrama sambil membawa banyak tas dan koper. Mirip adegan eliminasi peserta AFI. Ada adegan saling mengucapkan selamat berjumpa lagi, melambaikan tangan sambil menarik koper, tapi kali ini tanpa tetesan air mata. Mas Tunggul dan istri berpamitan pada kami. Aku masih duduk-duduk bersama Mas Kholid, Mas Mugi, dan beberapa teman angkatan 5, saat ibu Mbak Deasi datang menjemput. Alhamdulillah Mbak Deasi memberi tumpangan sampai stasiun. Aku bergegas membawa tas dan koperku ke mobil Mbak Deasi. N finally I said good bye to Mas Kholid, Adit, Mas budi, dan Mas Amrih, yang saat itu berada di lapangan menunggu taksi.

Aku pun meninggalkan badan diklat. Saat perjalanan pulang, yang ku pikirkan saat itu adalah kapan aku bisa bertemu dengan teman-teman angkatan 6 lagi? di diklat PIM 4 kah?? (Hehe..) Kemudian aku memflash back hal-hal menyenangkan selama 17 hari bersama orang-orang yang sangat menginspirasi. Mengingat kembali hal-hal lucu, diskusi-diskusi, kesepakatan-kesepatan yang kami buat, dan senyum dan tawa setiap teman-teman angkatan 6. Aku pun berharap diklat kali ini membawa manfaat bagi kami, agar kami menjadi abdi negara yang baik dan amanah. Amin… ^_^

 

**teman-teman, this is the last part of my note about our unforgettable diklat prajab. That’s all I can write, as a reminder of our friendship. Hope I can write more stories about us. So, let’s make more stories!!! Hehe..

Salam jumping jack!!!!!!!! ^_^

 

Purwokerto, Februari 2011

The writer, Lina Keren Rahmawati